Visit Sexy blog, influenza!

Full Sex Story And Hot Video

Permainan Binal

Cerita ini adalah cerita
sebenarnya mengenai
pengalaman hidup saya ketika
saya masih kuliah di Bandung.
Saat ini saya sudah bekerja di
salah satu perusahaan BUMN terkenal di dekat Gedung sate.
Di dalam cerita ini saya
mengubah nama dan
settingnya untuk menjaga
identitas asli orang-orang
yang terkait di dalam cerita ini tanpa mengurangi jalannya
cerita. Semuanya dimulai ketika saya
masih menjalani usaha jual-beli
komputer. Kegiatan saya cukup
banyak menyita waktu kuliah
saya dan menyebabkan kuliah
saya sedikit terbelengkalai. Saya sering dipanggil dengan
nama Boby, dan rekan kerja
saya Martin. Pada suatu sore
saya dan Martin mampir ke
tempat penjualan Komputer
milik rekan usaha kami juga. Sampai di sana kami hanya
membicarakan masalah
penjualan komputer saja
hingga tokopun ditutup. Yang
menjaga toko di situ terkenal
suka main wanita, padahal dia sudah memiliki istri dan anak,
saya memanggilnya Jefri.
Ketika saya dan Martin ingin
pulang, Jefri ternyata ingin
ikut kami, maka kamipun tanpa
keberatan menyetujuinya. Hari itu kami pulang naik mobil saya
yang tidak menggunakan kaca
film, jadi kalau orang di jalan
melihat kami seperti ikan di
dalam aquarium. Di dalam perjalan pulang tiba-
tiba Jefri mengajak kami untuk
jalan-jalan dulu, alasannya
malam ini adalah malam minggu.
Kamipun setuju-setuju saja,
soalnya saya dan Martin lagi kosong (lagi tidak punya
pacar), jadi tidak punya
kegiatan ngapel malam minggu.
"Daripada kami bengong di
rumah, mendingan kami main-
main aja ke tempat cewek kenalan gue." kata Jefri
dengan wajah mesumnya.
"Kalo gue sih ok-ok aja,
gimana lu, Tin?" Tanya saya ke
Martin.
"Jekas gue sih ok aja, gue udah BT seminggu ini," katanya
sambil mengiyakan. Agak lama kami sampai juga ke
tempat kosnya Mira kenalan
Jefri di daerah Tubagus Ismail.
Waktu itu sudah jam 8 malam,
jadi jalanan macet karena
malam minggu di Jl. Juanda ramai orang menimati malam.
Ternyata kos-nya Mira adalah
kos-kosan khusus wanita yang
ramai dengan gadis cantik.
Saya senang sekali dan pasti
sama dengan Martin, soalnya kami sudah lama tidak dekat
dengan gadis setelah putus
hubungan dengan pacar kami
masing-masing. Ketika sampai di depan
kamarnya Mira yang lumayan
besar itu kami tertegun
sebentar karena melihat
pemandangan yang indah di
depan mata kami. Ada 3 orang gadis cantik dan seksi sedang
bermain monopoli sambil
tiduran di atas ranjang
springbed yang lumayan besar.
"Hai, jeff.. udah lama ngga ke
sini, tumben, ehh siapa tuh? Temen lu?" kata Mira dari
dalam kamarnya.
"Biasa, gue kan sekarang lagi
sibuk, nah kebetulan mampir.
Kenalin nih temen gue. Boby
dan yang satunya Martin." "Ehh, ngomong, ngomong siapa
tuh temen lu berdua yang
cantik di dalam?" tanya Jefri
yang melihat ada dua cewek
yang cantik dan sexsi lagi
tidur-tiduran di ranjangnya Mira sambil tersenyum ke arah
kami.
"O..ya, temen gue, Mona sama
Jeni." Kata Mira.
"Gila." dalam hati kata saya,
rupanya kedua temennya tidak beda dengan Mira yang
memiliki tubuh yang sensual
dengan buah dada ukuran 36B
dan kulitnya yang putih mulus.
Saat itu saya sempat
membayangkan kalau tangan saya merabanya, pasti akan
asyik. Mira berbeda sedikit
dengan kedua temannya
karena tubuhnya sedikit lebih
tinggi dan rambutnya digerai
laksana perempuan nakal yang saat itu hanya menggunakan
daster merah yang lipatan
dasternya hanya 15 cm di
atas lututnya. Pamandangan
seperti itu membuat kami
terutama saya terangsang. Sedangkan Jeni dan Mona
hanya memakai tentop dan
celana pendek jeans belel yang
semakin memamerkan paha
mereka yang putih mulus itu. Setelah diajak masuk ke
kamarnya, kami langsung
pura-pura akrab dan kami
mengambil posisi pasang-
pasangan, saya dengan Mona,
Martin dengan Jeni dan tentunya Jefri dengan Mira.
Kami saat itu sedang bermain
monopoli. Rupanya kebiasaan
Jefri yang suka datang ke
kamar Mira itu sudah dianggap
biasa sama Jeni dan Mona dan mereka sepertinya sudah
mengetahui kalau di antara
Jefri dan Mira sering bercinta
di situ. Jeni dan Mona
sepertinya tidak malu-malu
dan bahkan mereka langsung merangkul kami sambil tertawa
karena menikmati permainan
monopoli tersebut. Tidak lama, mungkin sekitar 10
menit lamanya kami bermain,
Jefri menawarkan permainan
baru kepada kami.
"Wah seru banget nih kalau
kita mainnya pake aturan baru." Kata Jefri.
"Kaya apa Jef?" Tanya Jeni.
"Gimana kalau yang kalah buka
baju," kata Jefri yang dari tadi
tangannya sibuk meraba
pantatnya Mira. "Ok, setuju." Kami kompakan
menjawab.
Rupanya hasrat seperti itu
sudah dari tadi kami pendam,
dan untungnya Jefri pintar
mengambil situasi dan permainanpun dimulai dengan
timnya Jeni dulu yang pertama
membuka pakaian. Permainan
terus berlanjut sampai kepada
timnya Jefri dan Mira yang
sudah telanjang bulat ternyata masih kalah lagi, dan kami
minta hukumannya saling
ciuman. Mereka memang sudah
biasa, tapi hal itu membuat
kami semua yang menontonnya
menjadi terangsang, apalagi ciuman mereka sambil meraba-
raba begitu. Pemandangan
saat itu merangsang saya
yang saat itu hanya tinggal CD
membuat burung saya
menegang hingga kepalanya keluar dari CD karena
kebetulan burung saya kalau
sudah menegang bisa sampai
17 cm. Rupanya tidak beda
dengan Martin yang dari tadi
terlihat sudah mesra sekali dengan Jeni yang saat bermain
mencium pipinya terus. Gelagat
menegangnya burung kami
terlihat Mona dan Jeni yang
cekikikan melihatnya, tetapi
dengan nakalnya mereka memegang burung saya dan
Martin dengan penuh gairah.
Awalnya hanya memegang
tetapi lama-kelamaan Mona
mulai memainkan tangannya
naik turun. Saya tidak tinggal diam, sayapun langsung
meraba buah dadanya dengan
belaian dan remasan mesra.
Sebenarnya pengalaman saya
dalam melakukan seks dengan
wanita hanya baru berciuman dengan pacar saya sendiri. Hal
serupa juga dialami oleh Martin
dan pasangannya Jeni. Tidak tinggal diam, saya
langsung mengajak Mona yang
dari raut wajahnya sudah
mencapai nafsu birahi setelah
memegang burung saya ke
kamar mandi Mira yang kebetulan berada di dalam
kamar itu juga. Tanpa ada
penolakan, Mona saya tuntun
ke kamar mandi sambil kami
berciuman bertukar lidah. Mona
yang CD-nya sudah basah langsung saya buka setelah
menutup pintu kamar mandi,
saya memilih kamar mandi
karena saya sebenarnya baru
kali ini telanjang bulat di depan
gadis yang juga sudah telanjang bulat kecuali hanya
tinggal CD yang menutupi
badan kami. Entah kegilaan apa
yang sudah saya lakukan
malam itu, perasaan saya jadi
sedikit ragu ketika Monapun tanpa kelihatan malu-malu
membuka CD saya dan
kemudian menjilati burung saya
dalam posisi jongkok, tapi
memang nikmatnya terasa
sampai ke ubun-ubun saya waktu itu, sehingga saya tidak
berpikir panjang lagi dan
langsung meremas buah
dadanya yang padat, putih,
mencuat dengan puting
merahnya yang mungil seperti buah ceri di atas es cream
vanila. Permainan terus
berlanjut dengan kami berganti
posisi, saya awalnya ragu,
karena kemaluannya yang
lebat ditumbuhi bulu halus itu baru kali ini saya lihat dari
jarak dekat. Saya memulainya
dengan menyibakkan bulu-bulu
halus itu pelan-pelan.
"Ehh.. enak Bob.. kamu.. ahh.."
rintihnya. Mendengar rintihan itu saya
langsung membenamkan muka
saya ke bulu-bulu halus itu
dengan memainkan lidah saya
di sekitar clitorisnya. Lagi-lagi
Mona mendesah, dan kali ini malah meremas-remas rambut
saya sambil sedikit-sedikit dia
menggoyangkan pinggulnya
karena kegelian nikmat. Sambil
terus menjilati kemaluannya
yang semakin membasah itu, saya mendudukkan Mona di
pinggiran bak mandi agar Mona
terasa nyaman.
"Terus Bob, terus.. saya ingin,
ehh.." Kata-katanya tak
sempat diteruskan karena saat itu Mona menggeliat
karena orgasme dan dari
kemaluannya mengalir cairan
bening yang baunya tidak
pernah akan saya lupakan. Tangannya semakin keras
menjambak rambut saya
karena hebatnya dia
mengalami orgasme. Kami
bertukar posisi, kemudian dia
langsung memeluk saya dan mengangkat kakinya dengan
tangannya menuntun burung
saya ke kemaluannya yang
sudah basah itu.
"Bob, ayo kamu masukkan
punya kamu ke meki gue, gue udah ngga tahan lagi.."
desaknya.
"Seperti ini?" Tanya saya
pura-pura polos sambil
mencoba mengarahkan burung
saya ke kemaluannya yang masih sempit itu.
"Ehh.. aduhh.. pelan-pelan ya
Bob.. saya belum terbiasa.."
Katanya lirih.
Saya mendorong pelan-pelan
dan ahirnya masuk setengah burung saya yang lumayan
besar untuk kemaluannya.
Saya memulai dengan
mendorong dan menarik pelan-
pelan sambil mencium bibirnya
dengan mesra dan tangan kanan saya meremas-remas
halus buah dadanya.
"Ehmm.. enak Bob.. terus Bob..
tekan lagi..sam..pai masuk
semua..ohh.." desahnya tak
karuan karena merasa kenikmatan yang dasyat saat
itu.
Saya menusukkan burung saya
makin lama makin ke dalam
dan semakin cepat
frekuensinya. Bunyi decakan terdengar karena gerakan
saya diikuti oleh gerakan
pinggulnya yang ke kiri-kanan
itu. 20 menit berlalu dengan
posisi itu dan ahirnya saya
mencapai puncak. "Gue mau keluar nih..keluarin di
dalam?" Tanya saya sambil
terus memasuk-keluarkan
burung saya.
"Keluarin aja di dalam bob.. gue
juga kayaknya mau keluar lagi.. ohh.." Jawabnya sambil terus
menggila berciuman. Kami ahirnya mencapai puncak
kenikmatan hampir bersamaan,
dan tubuh kami saling
berpelukan sangat erat dalam
posisi berdiri. Nafas kami
berdua terengah-engah dan kamipun menghentikan gerakan
sambil berciuman sampai lama.
"Gue sayang sama lu Bob..gila
enak banget Bob." Kata Mona
di dekat telinga saya yang
dari tadi juga menjadi sasaran lidahnya yang haus itu.
"Lu nggak apa-apa kan Mon..?
Gue baru kali ini ngerasaain
yang kaya gini.. gila enak
banget Mon." Kata saya. Kami kemudian mandi bersama
dan membersihkan diri. Ketika
keluar dari kamar mandi
rupanya kedua pasangan
Jefri-Mira dan Martin-Jeni
menertawai kami berdua. Rupanya mereka juga
melakukan hal yang sama
seperti yang kami lakukan di
kamar mandi, bedanya mereka
melakukan di ranjangnya Mira
dan mereka melakukannya berempat bersamaan. Sambil
malu-malu saya mengambil
pakaian saya dan kemudian
bermesraan lagi dengan Mona.
Dan perasaan saya saat itu
senang sekali. Saya dan Mona bermesraan di Sofa tidak
menghiraukan keberadaan
teman-teman yang lain sampai
ahirnya Jefri dan Martin
mengajak pulang karena saat
itu sudah hampir jam 12 malam. Walaupun sedikit bebas
di lingkungan kosannya Mira,
tapi kami masih merasa tidak
enak kalau-kalau ada
tetangga di situ yang menegur
gara-gara kami bertamu kelewat batas.
"Bob, mau pulang sekarang..?
Telpon gue yahh besok..?"
Rayunya sambil mencium pipi
saya yang terahir kalinya
sebelum pulang. Kami pulang dengan masing-
masing menyimpan cerita dan
pengalaman yang terindah
malam itu. Di perjalanan kami
saling menceritakan apa saja
yang sudah kami lakukan tadi, dan sejak saat itu saya dan
Mona berpacaran rutin sampai
2 tahun.


Tamat

[ back ][ home ]


Web Site Hit Counter
Log in
Sign up
Subscribe
Featured feeds